Rabu, 30 Maret 2016

Potensi Gunung Api Sangiang Bima part 3



Menaiki Boat menuju Pulau Sangiang
PEBURUAN
Pulau Sangiang menjadi pusat perburuan Rusa atau Menjangan di Pulau Sumbawa, setelah Savana Tambora. Tetapi harus di akui, bahwa menjangan di Pulau Sangiang lebih banyak dari jumlah yang ada di lereng atau savanna Gunung Tambora. Meski setiap tahun diburu oleh ratusan orang sejak puluhan tahun yang lalu, Menjangan di Pulau Sangiang tidak pernah punah dan berkurang. Meski demikian pihak pemerintah melalui PPA maupun KSDA sering melakukan patroli dan penjagaan di Pulau Sangiang dari warga yang berburu menjangan, karena dikhawatirkan akan punah. Namun warga Sangiang sendiri cukup heran, hampir setiap tahun ratusan pemburu masuk pulau Sangiang untuk berburu dan puluhan hingga ratusan menjangan didapat. Tetapi lagi-lagi, menjangan di Sangiang tidak pernah berkurang.

Ayang Saifullah membeberkan, bahwa di Sangiang Darat, ada keluarga pemburu menjangan. Sejak buyut, kakek, bapak hingga anaknya saat ini lihai berburu dan keturunan pemburu memang. Menurutnya sudah 4 generasi keluarga yang berburu menjangan di pulau Sangiang. Ada musim dimana ratusan orang pergi berburu di Pulau Sangiang, tradisi ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu.

Berbagai jenis satwa burung pun ada di Pulau Sangiang, beberapa orang warga Sangiang darat yang ke Pulau Sangiang mengakui melihat beberapa ekor Burung Cenderawasih dan warga Pulau Sangiang menyebutnya Burung Irian Jaya. Mereka tau bahwa burung tersebut berasal dari Irian jaya karena pernah melihatnya ditelevisi. Baru-baru ini sekitar 2 tahun lalu, segerombolan burung (sekitar 5-7 ekor) Cenderawasi dijumpai oleh warga Donggo dan Manggarai yang berburu menjangan dibagian utara gunung Sangiang.

TRANSPORTASI MENUJU WERA DAN PULAU SANGIANG
Untuk menuju Pulau Sangiang, sangatlah mudah. Jika kita star dari Terminal Dara sebagai terminal Kota Bima, anda bisa naik Bemo D atau Ojek menuju Terminal Jatibaru – Kota Bima. Dari terminal Jatibaru ini ada bus yang standby menuju Kecamatan Wera. Ada yang berangkat pagi, siang dan sore sebagai pemberangkatan akhir. Dari Kota Bima menuju Wera, anda akan meliwati kecamatan Ambalawi. Kecematan Ambalawi sebelumnya bernama Wera Barat. Namun setelah pemekaran dari kecamatan Wera disepakatilah nama Ambalawi. Ambalawi juga memiliki banyak sekali Spot Wisata Pantai dan Panorama yang indah yang belum belum terekspos, seperti Terumbu Karang Oi Fanda, Panorama Pantai Mawu, hingga Doro Cumpu. Jarak tempuh dengan kendaraan umum dari Kota Bima menuju terminal Tawali Wera adalah 2 – 3 jam. Sesampai diterminal Wera, anda bisa menggunakan jasa ojek menuju Sangiang Darat. Dari Sangiang darat, banyak perahu dan Boat yang bisa mengantar anda menuju Pulau Sangiang.

Untuk biaya antar jemput dari Sangiang Darat ke pulau Sangiang dan sebaliknya (bila menginap) atau untuk Pulang Pergi bila tidak menginap anda harus merogok kocek Rp 500.000. bila menggunakan perahu biasa dengan mesin 2 silinder, jarak tempuhnya sekitar 90 – 120 menit. Sedangkan bila Boat yang anda tumpangi berselinder 4, maka anda hanya menghabiskan waktu untuk menyebrang sakitar 45 – 60 menit. Tetapi bila anda ingin mengeliliangi Pulau Sangiang dengan Boat tanpa singgah diberbagai Spot wisata yang disebutkan diatas, anda bisa star dari Perkampungan Pulau Sangiang, memutar dari arah barat ke utara, timur, selatan dan kembali ke Barat. Anda bisa menghabiskan waktu sekitar 3 – 4 jam dengan boat 4 silinder. Tentu biayanya pun bisa lebih dari 1 jutaan.

Setelah puas menikmati Pulau Sangiang dan kembali ke Sangiang Darat, anda bisa memesan Sarung Nggoli khas Wera (Sarung Tenun Khas Wera) dan madu hutan Wera yang dijamin keasliannya di Sangiang Darat. Anda juga bisa menyaksikan pembuatan kapal kayu dengan kapasitas muat 500 – 1.500 Ton daya angkut sambil menikmati sunset disore hari menjelang kembali ke Kota Bima. Konon katanya orang Sangiang Darat, tidak syah ke Sangiang Darat kalau tidak menikmati Ikan Bakar pinggir laut sangiang dengan Sambal Khasnya yang bikin raga selalu ingin ke Sangiang.

Nah, untuk ikan bakar ini, anda bisa pesan terlebih dahulu sebelum berangkat ke pulau sangiang pada warga pinggir pantai Sangiang darat. Dan akan dibakarkan dipinggir pantai sangiang Darat pada saat anda kembali dari pulau Sangiang. Entah apa maksud dan tujuannya. Namun warga Sangiang Darat percaya bahwa hal itu dapat membantu anda sehat bugar tanpa rasa lapar sedikit pun ketika melakukan perjalanan menuju Kota Bima.

Banyak hal lain yang belum di eksplor sebagai potensi warisan maupun potensi yang terpendam di Pulau Sangiang. banyak hal yang belum diungkap. Banyak potensi yang masih ditutupi dari warga luar pulau Sangiang. tetapi Warga Sangiang, baik Sangiang Darat maupun Pulau Sangiang, sangat ramah dan wellcome kepada siapa pun selama warga yang datang itu menghargai dan menghormati budaya dan adat masyarakat Sangiang.

Suatu waktu Penulis akan kembali ke Pulau Sangiang, mencoba menemukan potensi-potensi terpendam sebagai kekayaan Wisata, Budaya serta Warisan leluluhur. Masih banyak kata-kata tua, petuah serta Ngaji Tua warga Sangiang yang masih ingin Penulis eksplor. Termasuk cara dan ritual pembuatan Kapal Kayu atau Phinisi. Para pembuat dan Nakhoda Phinisi sebagian besar tidak ber-sekolah formal tetapi Teori dan sistimatika kerja mereka mengalahkan teori para Insinyur dan pasca Sarjana Kelautan. Disinilah letak nyata Scholae menurut Plato, “Belajar Dibawah Pohon” dan prinsip pendidikan menurut Fucoult “Semua orang adalah Guru dan semua tempat adalah Sekolah”. Wallahualam bissawab.

By Rangga Babuju

Rabu, 23 Maret 2016

Potensi Gunung Api Sangiang Bima part 1

Pulau Sangiang yang menyimpan banyak PotensiPulau Sangiang yang menyimpan banyak PotensiGunung Sangiang adalah Gunung yang memiliki banyak Versi dan Mitos, baik tentang asal muasal, catatan sejarah hingga culture asal warga disana. Sebab hingga saat ini Warga gunung Sangiang tidak pernah mengakui dirinya sebagai Orang Wera yang berada diseberang pulau itu, demikian juga dengan warga Sangiang Darat yang ditinggal didaratan Wera juga sepenuhnya cenderung menganggap diri bukan sebagai orang Wera. Mereka lebih memilih diri mereka sendiri sebagai Warga Sangiang Pulau seperti keberadaan Suku Bajo disaentero nusantara.

Gunung Sangiang terletak disebelah Utara Kabupaten Bima, ujung timur Pulau Sumbawa Propinsi NTB. Tidak banyak orang yang ke Gunung Sangiang selain warga Sangiang sendiri dan beberapa kelompok masyarakat pemancing ikan dan pemburu rusa atau menjangan. Gunung Sangiang secara administrasi masuk dalam wilayah Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Gunung ini berjarak sekitar 10 mil atau 25 km dari Wera sebagai daratan pulau Sumbawa.

Gunung Sangiang adalah salah satu gunung Api aktif di Indonesia, dalam catatan PVMBG (Badan Vulaknologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Gunung Sangiang berstatus waspada. Status tersebut dikeluarkan sejak Oktober 2009 hingga saat ini dan belum berubah menjadi Normal. Namun masyarakat lereng Sangiang mengaggap hal itu biasa dan tak dikhawatirkan sebab mereka (Warga gunung Sangiang) punya cara tersendiri secara turun temurun dalam memastikan apakah gunung tersebut akan menyemburkan magma (meletus) atau tidak.

Dalam Rangka Dies Natalis Komunitas BABUJU ke 5, Civitas BABUJU mengadakan kegiatan Champing di lereng gunung Sangiang pada 17 – 18 Mei 2014. Berikut catatan potensi hasil dari eksplor kisah bertutur dari bibir pantai Sangiang dipagi hari bersama Ompu Reho (Ompu adalah panggilan orang tua yang sudah berumur) dan Ayang Syaifullah sebagai keturunan warga pulau Sangiang dihadapan civitas Komunitas BABUJU.

SEJARAH
Tidak ada yang tahu, sejak kapan warga mendiami Gunung Sangiang, tetapi berdasarkan cerita dari para orang tua, bahwa masyarakat tinggal di Sangiang sudah sejak jaman Ncuhi (jaman sebelum Kerajaan dikenal di Bima). Konon, warga Sangiang memiliki keterkaitan darah antara Warga Palue dilereng Gunung Rokatenda – Flores NTT. Warga Palue menyebut dirinya sebagai Attapalue sedangkan orang Sangiang menyebut diri mereka sebagai Attasangia. Diakui pula hingga hari ini, bahwa warga Palue yang hidup dilereng dan punggung gunung Rokatenda adalah asli Attasangia (Baca: orang Sangiang). Mereka ke Palue karena menolak memeluk ajaran Agama Islam, akibat syarat untuk masuk Islam adalah harus disunat (memotong kulit depan kelamin lelaki).

Kepala Suku di Sangiang tidak menyebut diri mereka sebagai Ncuhi, Galarang atau Punggawa, namun gelaran Dallu. Di Manggarai, Dallu adalah Kepala suku seperti halnya di Bima disebut Ncuhi. Ketika masa Kerajaan maupun Kesultanan, Ncuhi berubah menjadi Jeneli atau Punggawa dan pada masa Swatrantra maupun Swapraja (setelah Kemerdekaan NKRI) mulailah disebut sebagai Gelarang dan kini Kades atau Lurah. Tetapi di Pulau Sangiang, kepala Suku sejak warga Attasangia menempati Pulau Sangiang hingga saat ini tetap menyebut Dallu sebagai Pemimpin Kelompok masyarakat.

Dallu terakhir adalah Dallu H. Jamaluddin atau dikenal dengan ‘Abu Wadi’, yang memimpin warga Sangiang sejak tahun 50an, sebelum itu dipimpin oleh ‘Dallu Abu Jao’, dengan perkiraan menjadi Dallu Sangiang sejak awal abad ke 19 atau tahun 1900an awal. Nisan kuburan ‘Dallu Abu Jao’ masih ada hingga saat ini, meski sudah dikelilingi oleh semak belukar. Dan Uma Dallu (Rumah Tua) juga masih berdiri kokoh. Uma Dallu diperkirakan berumur 500an tahun, sebab, konon, ‘Dallu Abu Wadi’ maupun ‘Dallu Abu Jao’ (Bapak dari Abu Wadi) tinggal disitu secara turun temurun siapapun yang menjadi Dallu. Uma Dallu secara turun temurun menjadi rumah kepala Suku, istilah sekarang adalah rumah dinas. Konon, di Uma Dallu yang masih berdiri kokoh ini, La Kai (Sultan Abdul Kahir), Sultan Pertama Bima, pernah tinggal beberapa tahun saat dikejar oleh Salisi (pamannya sendiri) saat akan menuju Kesultanan Gowa sekitar tahun 1610. Prasasti yang membuktikan bahwa La Kai pernah tinggal di Uma Dallu itu adalah Wadu Kahampa (Batu Kesepakatan), yang beberapa tahun lalu sempat bersengkata dan dibuang ke laut oleh seorang Ustadz yang menganggap itu sirik dan Bupati Bima (alm) ferry Zulkarnaen, harus turun tangan menangani sengketa tersebut.

Warga Pulau Sangiang juga yakin bahwa sebelum Datuk Dibanta maupun Datuk Ditiro (Syekh Pembawa Islam di Bima) menginjakkan kakinya di Bima, terlebih dahulu datang “Tujuh Wali” atau dikenal dengan “Wali Pidu” di Sulawesi juga sempat ada cerita tentang “Wali Pitu” demikian juga di Manggarai. Dua diantaranya meningga di Pulau Sangiang. Salah satu dari dua Wali yang dikubur di Pulau Sangiang bernama Syiekh Syamsuri. Kuburannya ada di punggung Gunung Sangiang dan masih bisa dijumpai. Diakui pula oleh 2 orang Juru Kunci Sangiang, Abu La Ebe (65thn) dan Pua Juwaidin (40thn). Kuburan kedua Syiekh tersebut menjadi legenda bagi banyak orang, tetapi bagi banyak warga Pulau Sangiang itu ada dan nyata. Kuburan itu terletak dipunggung gunung, dapat ditempuh dengan mendaki sekitar 5 jam perjalanan. Berada dibawah rimbunan 2 pohon besar dan rindang. Anehnya, kuburan tersebut selalu bersih dan tidak pernah dijatuhi oleh dedaunan apapun termasuk ditumbuhi oleh semak-semak. Warga pulau sangiang sering berziarah di 2 kuburan tersebut.

begitu Indahnya...Danau Air Asin di Pulau Satonda,

Satonda adalah destinasi wisata yang menjadi buah bibir para traveler dan fotografer. Kenapa? Karena di tengah Pulau Satonda terdapat danau air asin dan terkenal luar biasa indahnya. Beruntung saat ini ada teknologi drone sehingga saya bisa memotret sebagian pulau dari udara yang tampak pulau dan danaunya sekaligus.

Yang membuat Pulau Satonda terkenal sampai mancanegara karena dahulu ada dua ilmuwan Eropa, Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak meneliti Danau Satonda pada tahun 1984, 1989 dan 1996. Hasil penelitian mereka menyebutkan bahwa Satonda adalah fenomena langka karena airnya yang asin dengan tingkat kebasaan (alkalinitas) sangat tinggi dibandingkan air laut umumnya. Keduanya berpendapat, basin Satonda muncul bersamaan dengan terbentuknya kawah tua yang berumur lebih dari 10.000 tahun lalu. 

BARRY KUSUMAPulau Satonda di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Pulau Satonda di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, ini unik karena berupa daratan vulkanis yang terbentuk karena letusan gunung api di dasar laut sedalam 1.000 meter sejak jutaan tahun lalu. Pulau Satonda juga menyimpan kekayaan terumbu karang di perairan sekitarnya. Pulau Satonda telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL) pada tahun 1999 oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan karena potensi alam lautnya memiliki kekayaan terumbu karang.

Danau purba di Pulau Satonda ini terbentuk dari letusan Gunung Satonda beribu-ribu tahun lalu. Gunung api Satonda konon berumur lebih tua dari Gunung Tambora, atau tumbuh bersamaan dengan beberapa gunung api parasit yang tersebar di sekeliling Tambora. Danau yang terbentuk di kawah Satonda dulunya terisi air tawar. Letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan mengubahnya menjadi danau air asin hingga hari ini.

BARRY KUSUMAPulau Satonda dengan danau air asinnya di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.
Untuk mencapai Pulau Satonda menghabiskan waktu 3-4 jam perjalanan darat dari Kota Dompu, Nusa Tenggara Barat. Selanjutnya untuk menuju pulau ini Anda dapat menggunakan perahu cadik bermotor dari desa terdekat, yaitu Desa Nangamiro.

Selama perjalanan menuju pulau yang biasanya memakan waktu sekitar 1 jam tersebut, tarif per orang dikenakan Rp 25.000. Tiba di Pulau Satonda bagi yang suka dengan tantangan alam bisa langsung mendaki untuk melihat dengan jelas danau purba Satonda dari atas bukit. Lama perjalanan trekking ini kurang lebih 1,5 jam. Tetapi jika ingin bersantai anda bisa ke bawah untuk menikmati dan mandi di Danau Satonda. Ketika kita sampai di puncak bukit, danau cantik dan unik berwarna hijau yang dinamakan Danau Satonda itu terhampar tenang di tengah kaldera yang dikepung oleh hijau pepohonan.

BARRY KUSUMAPulau Satonda dengan danau air asinnya di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.
Gunung api Satonda konon berumur lebih tua dari Gunung Tambora, atau tumbuh bersamaan dengan beberapa gunung api parasit yang tersebar di sekeliling Tambora. Danau yang terbentuk di kawah Satonda dulunya terisi air tawar. Letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan mengubahnya menjadi danau air asin hingga hari ini.

Di tepi danau, Anda akan melihat pohon yang berbuah batu. Batu-batu tersebut memang sengaja digantungkan oleh wisatawan yang sempat berkunjung ke sana. Karena konon batu-batu yang digantung tersebut mewakili doa dan harapan orang-orang yang dipercaya akan terkabul.

BARRY KUSUMAPulau Satonda di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Untuk mencapai pulau dan Danau Satonda ada beberapa alternatif jalur yang dapat dipilih. Dari Sumbawa Besar, perjalanan menuju Desa Nangamiro dapat ditempuh selama 8 jam berkendara. Apabila Anda dari Dompu, perjalanan menuju desa kecil tersebut sekitar 5 jam. Dari pelabuhan Nangamiro, perjalanan menuju Pulau Satonda dapat ditempuh menggunakan perahu selama kurang lebih setengah sampai satu jam perjalanan. Tarif perahu sekitar Rp 25.000 per orang.

Alternatif lain adalah dengan cara naik kapal pesiar dari Pulau Bali atau Lombok, mengambil jurusan Flores. Kapal pesiar memang kerap mampir di Pulau Satonda sebelum melanjutkan perjalanan (biasanya) menuju Taman Nasional Komodo. (BARRY KUSUMA)

Trevel kompas

Kamis, 17 Maret 2016

Cerita Unik di Balik Wishing Stone Satonda Island

Fakta dan Cerita Unik di Balik Wishing Stone Satonda Island

LSOtour. Danau Motitoi adalah danau yang terletak di tengah pulau Satonda, danau dengan diameter terpanjang 950m, dan terpendek 450m, dengan kedalam 60-84m,  terhampar indah ditengah pulau Satonda yang memiliki luas 535 hektar, dilindungi oleh hutan lebat dan daerah perbukitan yang indah, dengan ketinggian tertinggi 300mdpl. dahulu kala, terdapat sebuah desa di sisi Timur Pulau, yang dihuni hanya oleh beberapa keluarga, namun disekitar tahun 90an, oleh pemerintah Kabupaten Dompu mereka dipindahkan ke pulau Utama (pulau Sumbawa), sejak saat itu, pulau Satonda menjadi pulau tak berpenghuni hingga sekarang.

Ada beberapa teori dari para ahli tentang sejarah terbentuknya Danau Motitoi, antara lain, oleh Prof Stephen dari Hamburg University dan Prof Kamirsac dari Polandia serta beberapa tim ahli lainnya yang melakukan penelitian di Danau Motitoi Pulau Satonda pada tahun 1996. Dengan melihat lokasi danau yang berada lebih rendah dari permukaan laut, serta tidak ditemukannya kehidupan di dalam danau selain dari ikan-ikan kecil yang tidak bisa tumbuh besar, mereka berpendapat bahwa danau motitoi terbentuk ribuan tahun yang lalu, ketika sebuah gunung api bawah laut meletus dan kemudian membentuk sebuah caldera.



Sebelum Prof Stephen dan prof Kamirsac melakukan penelitian di danau Motitoi, telah ada penelitian sebelumnya oleh beberapa ahli lewat sebuah kerjasama antara Indonesia dan Belanda, melalui ekspedisi gabungan pada tahun 1984 Sekelompok ilmuwan dalam ekspedisi  tersebut menemukan perkembangan stromatolit di sebuah pulau kecil bernama  Satonda, sebuah pulau kecil bekas gunungapi di sebelah utara Sumbawa. Di  gunungapi Satonda (sebut saja begitu) terbentuk danau kawah yang disebut  Danau Motitoi. Di tepi danau ini ditemukan sebaran luas terumbu gampingan  stromatolit. karena terumbu gampingan Stromatolit tersebut itulah air danau Motitoi berkadar alkalin soda. jadi hanya jenis-jenis ikan tertentu yang mampu beradaptasi di dalam danau Motitoi.

Motitoi sendiri adalah bahasa lokal suku Mbojo yang berasal dari kata Moti = Laut dan Toi = Kecil, jadi Motitoi adalah Laut Kecil. Laut kecil ditengah pulau Satonda.
Keunikan lainnya yang terdapat di danau Motitoi adalah, Pohon-pohon harapan. Disebut demikian karena banyaknya batu-batu yang bergantungan yang diikat pada ranting-ranting pohon oleh mereka-mereka yang datang berkunjung ke danau tersebut kemudian meninggalkan harapan-harapannya dan berharap jika terkabul mereka akan datang kembali untuk membayar nazarnya.

Banyak yang mengira, bahwa hal ini adalah sebuah tradisi dan keyakinan asli dari masyarakat di pulau Sumbawa, (khususnya Dompu) padahal batu-batu harapan ini, atau yang istilah kerennya disebut the WISHING STONE, pertama kali dilakukan oleh sepasang suami istri berkebangsaan Jerman, yang datang berkunjung ke Danau Motitoi pulau Satonda pada sekitar tahun 90an.  mereka kemudian menggantung batu pada pohon-pohon di pinggir danau dan berharap kelak mereka akan memiliki momongan. 5 bulan kemudian setelah mereka kembali ke Negaranya, si istri hamil dan mengandung seorang bayi, dengan penuh rasa bahagia, pasangan tersebutpun kembali ke Indonesia, dan menuju Danau Motitoi Pulau Satonda, namun kali ke dua mereka berkunjung kesana, mereka mengajak beberapa masyarakat di Utara pulau Sumbawa (lereng gunung Tambora) untuk mebayar nazar berupa seekor Kambing yang di korbankan sebagai perwujudan rasa terimakasihnya karena harapannya terkabul.

Sejak saat itulah, pohon-pohon di pinggir danau Motitoi dipenuhi oleh gantungan batu-batu harapan dari beberapa pengunjung, baik lokal maupun Mancanegara.

Selasa, 15 Maret 2016

Wisata Bima pulau sumbawa NTB

Wisata Bima pulau sumbawa NTB


Wisata Alam puncak lambitu



Terletak di kabupaten bima kecamatan lambitu,
Saat berkunjung bersama seorang kawan ke lokasi air terjun Oi Mabu, air terjun tersebut masih sangat alami dan tersembunyi dalam hutan bukit Lambitu, air terjun tersebut belum banyak di ketahui oleh wisatawan, jalan menuju kesana masih semak belukar.
Perjalanan penulis bersama kawan di Mulai dari desa Ncera dengan mengunakan kendaraan Motor Roda dua menuju Bombo Ncera dikenal dengan air terjun nun indah yg tidak kalah menakjubkan yg dapat menghipnotis para pengunjung. Dari situ membuat kita penasaran karena kami melihat ke atas kaki gunung Lambitu terlihat aliran air yg begitu tinggi dari kejauhan.
Ya benar saja kami melanjutkan perjalanan ke Desa Kawuwu tepatnya dusun Kalemba, sesampai di Kalemba kami mampir ke satu-satunya sekolah tepat pertama masuk dusun Kalemba menanyakan akses jalan menuju air terjun Oi Mabu.
Perjalan dilanjutkan melewati hamparan persawahan yg begitu tertata apik sekan seperti tangga alam yang asri di kaki bukit, menyisir jalan setapak disisi Sungai.
Jalur yang ditempuh naik melewati sawah sembari menyapa masyarakat yang menemani perjalan petualang. perjalan dengan waktu tempuh lebih kurang 20 menit dari Dusun Kalemba menuju air terjun Oi Mabu.
Sesampai disana tercampur haru dan bahagia, rasa capek seakan hilang begitu saja dengan disuguhi gemuruh suara air terjun tersusun dua seakan menyambut kami dengan penuh kebahagiaan.

Wisata Alam Soromandi


Wisata Alam Soromandi Bima adalah salah satu kota kecil yang terletak di ujung timur Propinsi NTB (Nusa Tenggara Barat), di bumi Ngaha Aina Ngoho ini tersimpan banyak sekali aset-aset alam yang menyimpan sejuta pesona yang masih belum terjamah, dan perlu untuk di gali dan dijadikan sebagai objek wisata. Aset alam ini bisa dijadikan sebagai daya tarik para wisatawan domestik maupun asing. Gambar-gambar yang saya ambil disini merpakan hasil jepretan dari komunitas pecinta alam bima “KOPA MBOJO”
Desa Campa

Campa adalah salah satu desa kecil yang letaknya di kabupaten Bima, NTB, khususnya di kecamatan Madapangga. Letaknya memang jauh dari keramaian, tetapi campa juga menyimpan keindahan alam yang mungkin banyak orang yang belum tahu akan hal ini. Contohnya seperti wana wisata OI TABA, kalo yang ini mungkin sudah banyak yang tahu, tetapi ada satu tempat yang belum orang tahu letaknya yaitu AIR TERJUN, Berikut ini adalah foto-foto wana wisata OI TABA Campa, bentuk wana wisata ini adalah semacam tempat meluncur tapi bedanya tempat meluncur di OI taba ini di bentuk oleh alam
Pantai Kalaki

Pantai Kalaki adalah pantai berpasir yang cukup landai, terletak di sebelah selatan kota Bima. Dari kota Bima, melewati Lawata menuju ke arah Lapangan Terbang Palibelo. Di Kalaki, pengunjung bisa bermain air laut yang dangkal, atau piknik sambil menikmati pemandangan laut teluk Bima. Pengunjung Pantai Kalaki umumnya berasal dari kota Bima dan dari kecamatan Woha dan Belo/Palibelo. Pada waktu liburan seperti saat Aru Raja (Lebaran), pantai Kalaki ramai sekali. Para pedagang jauh-jauh hari sudah mendirikan tenda-tenda di pinggir jalan sepanjang pantai. Sebenarnya, pantai Kalaki tidaklah terlalu bagus. Pasirnya bercampur lumpur sehingga kalau dilalui akan menjadi keruh. Di samping itu terdapat banyak batu-batu yang cukup tajam jika diinjak, dan tentu sangat tidak nyaman karena bisa menyandung. Pantai juga terlalu landai sehingga untuk mendapatkan kedalaman yang cukup untuk berenang atau menyelam, pengunjung harus masuk jauh ke dalam laut.
Jika air laut surut, pemandangan menjadi tidak sedap lagi karena air menjadi sangat jauh ke dalam sementara daratan yang ditinggalkannya tampak penuh batu yang berserakan. Pemda Kabupaten Bima yang menjadi “pemilik” pantai Kalaki tampak sudah melakukan beberapa “pembangunan” di pantai tersebut, berupa beberapa shelter yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berteduh dan duduk-duduk. Namun jumlahnya tentu tidak mencukupi saat pengunjung ramai seperti ketika Aru Raja. Pengunjung akhirnya menggelar tikar dan berkelompok di kebun orang di seberang pantai. Mereka umumnya mengadakan acara berbeque atau “bakar-bakar” di tempat itu. Biasanya, yang dibakar adalah ayam dan ikan laut. Pantai Kalaki, sekali lagi, menjadi pilihan masyarakat untuk piknik karena tidak banyak pilihan yang lebih baik lagi. Pantai di teluk Waworada (sebelah timur Karumbu) yang lebih indah dengan view pantai selatan sangat jauh dan fasilitas jalan juga belum memadai. Dalam hal ini, Pemda Kabupaten Bima masih harus berperan lagi dalam menata obyek wisata yang dibutuhkan oleh masyarakat
Lawata

Pantai Lawata adalah berupa sebuah “tonjolan” ke teluk Bima. Di Lawata terdapat sebuah bukit kecil yang memiliki beberapa buah gua kecil.Lawata memang sudah sejak dulu menjadi sebuah obyek wisata atau tempat piknik bagi masyarakat Bima. Lawata terletak hampir di luar kota Bima Pantainya bukanlah tempat yang bagus untuk bermain air, namun air (laut)nya bisa dibilang cukup jernih walaupun kadang berlumpur dan banyak batu-batu yang berserakan. Karena historinya, Lawata kemudian “dibangun”, dibuatkan banyak “cottage” yang berderet di sepanjang pantainya. Setiap cottage memiliki bagian “dalam” yang bisa digunakan untuk lesehan, bagian luar/depan yang bisa digunakan untuk memandang ke arah laut/teluk, dan tempat berbeque di sebelah luar/belakang. Tampaknya, setiap cottage cukup untuk sebuah keluarga atau rombongan yang lebih dari 10 orang.

Info wisata pulau sumbawa kabupaten Dompu

Pantai Lakay


Pantai Lakey terletak di Kecamatan Hu’u kabupaten dompu di pulau sumbawa adalah salah satu lokasi berselancar terbaik dunia. Karena kehebatan dan konsistensi ombaknya, setiap tahunnya pantai Lakey secara reguler dijadikan sebagai tuan rumah dari kompetisi selancar tingkat dunia. Pantai Lakey – Hu’u terletak kira-kira 5 jam dari kota Sumbawa Besar dan dari kota Dompu kira-kira memakan waktu 1 jam 45 menit ke arah selatan. Pantai Lakey-Hu’u mempunyai kehebatan 4 jenis ombak yaitu : Lakey Peak, Cobble Stones, Lakey Pipe dan Periscop. Dan beberapa kilometer di dekat pantai Lakey anda akan menemukan Spot lain yang tak kalah hebatnya yang dikenal dengan Periscop, bagian yang paling konsisten dan hebat dalam berselancar di Lakey yaitu Lakey Peak

Pulau Satonda



Pulau Satonda terletak di daerah utara pulau Sumbawa dikenal juga dengan nama Gunung Satonda, memiliki ketinggian 289 Km diatas permukaan laut dengan luas wilayah seluas 4,8 Km. Gunung ini memiliki kawah danau air asin dengan diameter 0,8 Km yang letaknya di tengah-tengah pulau. Ikan yang hidup di Danau Satonda hanya mencapai ukuran 5 cm dan sampai saat ini masih misterius kenapa ikan yang ada di dalam Danau Satonda tidak dapat berkembang dengan bagus.


Pulau Satonda dikelilingi oleh batu karang dan memiliki ragam ikan hias yang sama jenisnya dengan yang ada di Indonesia. Inilah keunikan dan keajaiban Pulau Satonda, Pulau Satonda merupakan tempat yang tersembunyi dengan lautnya yang biru dan gunung berapi yang menjulang tinggi. Pulau Satonda merupakan tempat yang paling sempurna untuk berenang dan menyelam sembari menikmati air danau yang tenang. Untuk dapat mencapai Pulau Satonda anda dapat melalui jalan darat dengan lama perjalanan dari Sumbawa Besar kira-kira 8 jam dan dari Dompu kira-kira 5 jam dan juga dapat melalui laut


Lepadi


Lepadi (Arena Pacuan Kuda Tradisional Lepadi terletak 5 Km di bagian selatan kota Dompu dan terkenal dengan pacuan kuda tradisionalnya, pacuan kuda dilaksanakan setiap tahunnya. Uniknya, joki yang menunggang kuda-kuda pacuan ini masih sangat muda, usia mereka tidak melebihi 8 tahun, tetapi keahlian mereka dalam mengendalikan dan memacu kudanya tidak perlu diragukan lagi.

Gunung Tambora


Gunung Tambora/Calabai merupakan kota kecil penghasil kayu yang terletak diujung utara semenanjung Gunung Tambora. Gunung Tambora seperti yang telah diketahui merupakan pusat dari letusan terdahsat yang pernah ada dalam sejarah, gunung Tambora mendominasi semenanjung utara Pulau Sumbawa, dengan ketinggian 2.851 meter diatas permukaan laut, berwarna coklat dan diselimuti oleh hutan lindung yang lebat, suatu perbedaan yang kontras dengan alam sekitarnya. Untuk mendaki Gunung Tambora yang besar dapat dimulai dari Desa Pancasila yang terletak di kaki Gunung Tambora.

Pendakian ke Gunung Tambora diperlukan 3 hari 2 malam melalui hutan lindung. Untuk mengurangi resiko selama pendakian, disarankan untuk menyiapkan diri selama pendakian oleh karena banyaknya lintah di dalam hutan lindung.
Kawah Gunung Tambora merupakan salah satu kawah dengan panorama yang spetakuler yang ada di Indonesia. Perjalanan menuju Calabai dapat ditempuh dalam waktu 8 jam dari Sumbawa Besar, 5 Jam dari Dompu dan 6 jam dari Bima

Nanga Tumpu


Nanga Tumpu terletak di jalur Jalan Raya Sumbawa – Dompu dengan jarak dari ibukota Kabupaten Dompu 30 Km dengan waktu tempuh 25 menit. Kawasan ini memiliki berbagai gugusan Pulau-pulau kecil seperti: Nisa Pu’du, Nisa Rate, Nisa Maja, Nisa Ko’do dengan hamparan pasir putih yang sangat indah. Kawasan Nanga Tumpu dan sekitarnya sangat cocok untuk kegiatan berenang, memancing dan menyelam.
Pada saat musim angin selatan dan barat (sekitar bulan Januari, Pebruari, Maret, Juli dan Agustus) sangat cocok untuk kegiatan olah raga Wind Surfing, Kite Surfing dan Lomba perahu layar tradisional. Di tempat ini tersedia fasilitas rumah makan.


Pantai Ria


Pantai Ria Terletak di wilayah pantai sebelah Barat Teluk Cempi yang indah. Pantai Ria yang alami dengan pasir putihnya yang lembut merupakan salah satu wilayah terpencil di Sumbawa Tengah dengan keindahannya yang agung, tempat dimana anda bisa melarikan diri dari rutinitas yang melelahkan dan bersantai bersama keluarga