Pada awal saya menelusuri proses
kesuksesan Donalt Trum didunia bisnis karna dia adalah sala satu miliader sukses
dibelahan bumi diseberang (Amerika Serikat) dengan tujuan menambah pemahaman terkait
tokoh bisnis sukses untuk dimasukin dalam proyek riset yang saya angkat. Sebenarnya
saya juga belum pernah menulis terkait trump sebelumnya, entah kenapa ada
panggilan yang membuat mengangkat tema ini saya menganggap ada strategi yang
hampir mirip digunakan oleh kedua tokoh tersebut.
Di isu internasional beberapa pekan
terakhir orang-orang memperbicangkan
sang calon presiden kontroversial Danald
Trum (Pemenang Pemilu saat ini) sementara di tingkat nasional orang-orang
memperbincangkan Basuki Tjahaja Purnama(AHOK). Semalam beberapa teman kuliah
menyebutkan Tunggu tanggal 25 November, Awalnya saya berpikir itu adalah hari
pengumpulan tugas atau ada jadwal seminar setelah saya tanya ke sala satu dari mereka
menjawab ternyata tanggal Demo/Aksi terhadap AHOK. Hha (kurang update info).
Sun
Tzu seorang panglima sekaligus ahli seni perang legendaris abad ke-6 SM dari Tionghoa pernah mengatakan “Kenali dirimu,
kenali musuhmu, dan kenali medan tempurmu. Dan kau akan memenangi seribu
pertempuran”. Jika kamu mengenal dirimu sendiri tanpa mengenal musuhmu setiap
kemenangan yang diperoleh, kamu juga akan menderita. Jika kamu tidak mengenal
musuhmu dan dirimu sendiri kamu akan menderita kekalahan dalam setiap
pertempuran.
Informasi Digital menjadi kebutuhan dasar bagi generasi X, lagi-lagi generasi Y dan Z. Teknologi
informasi berubah dengan sangat cepat bahkan dalam perhitungan bulan dengan
munculnya inovasi produk-produk baru perangkat lunak maupun perangkat keras bahkan jaringan internet yang memudahkan akses informasi masyarakat semakin hari semakin mudah dan cepat dimanapun
dan kapanpun, maka setiap aktivitas pun ikut berubah terutama dalam hal
mengakses informasi dari berbagai bidang. Internet dan media sosial telah menjadi bagian yang
tidak terlepaskan dari kehidupan manusia. Tak hanya saja, internet dan media
sosial telah memengaruhi cara berbisnis tak terkecuali aktivitas dalam dunia
politik.
Katidakpercayaan terhadap tokoh publik dan media TV yang semakin hari semakin tidak
jelas arahnya dan cenderung memihak membuat masyarakat (terutama masyarakat ibu
kota) beralih mencari informasi secara pribadi melalui media internet, mulai
dari media sosial, website bahkan dengan youtube. . Disisi lain budaya
literasi(menulis) masyarakat indonesia yang masih rendah sehingga masyarakat
bisa terjebak oleh informasi miring yang dikelolah dengan secara terorganisir
oleh kelompok tertentu. Hal ini dukung juga oleh merajalelanya akun palsu di
media sosial maupun media lain untuk mengakses lewat internet.
Kembali ke Topik utama, Lalu bagaimana tim Donalt Trum dalam mengambil keuntungan peluang yang ada?
Kembali ke Topik utama, Lalu bagaimana tim Donalt Trum dalam mengambil keuntungan peluang yang ada?
Nah beginilah Strategi Kampanye Trump Pada Primary Election U.S.A.
Dalam
tuisan ini saya tidak akan menjelaskan bagaimana sistem pemilihan presiden di
amerika, yang cukup berbeda dari sistem pemilihan presiden di Indonesia, jadi
jika anda ingin tahu, silahkan googling sendiri. Yang pada intinya beberapa
bulan yang lalu Amerika sedang menjalankan Primary Election, dimana masing-masing
kandidat baik dari partai republik maupun demokrat sedang berlomba untuk
memenangkan nominasi dari partainya masing-masing untuk meraih kemenangan. Sederhananya
saya hanya menganalisa fenomena yang terjadi mengapa Trump bisa meraih
kemanangan. Dan jujur saja mungkin ini hanya analisa dari perspektif hamba yang
sebatas seseorang yang berkecimpung di dunia IT dan sedikit tidak nyambung dengan masalah ilmu-ilmu sosial dan politik, saya
rasa diluar sana banyak orang yang berkompeten perihal hal ini. Hamba saya
sekedar menuliskan analisa dari pengamatan seadanya. Jadi mohon maafkan jika
berbeda pandangan.
Ok. so let’s begin. Jika anda mengamati dengan cermat, sebenarnya kemenangan trump ini bukan hal
yang aneh, dan metode yang mirip-mirip banyak terjadi juga dalam pilkada di
dalam negeri. Ketika
awalnya Donald J. Trump menyatakan secara resmi bahwa ia akan maju sebagai
kandidat presiden U.S.A pada bulan Juni 2015 silam, banyak orang yang tertawa,
mengolok-olok, seakan-akan tidak percaya. Di berbagai media sosial, satu
persatu netizen berusaha mem-bully sang taipan real-estate ini. Terutama di
salah satu situs favorit saya, 9gag. Melihat fenomena tersebut, saya sudah
memprediksikan bahwa Trump akan unggul, bukan karena melihat kehebatannya, tapi
karena berbagai bully-an yang muncul, yang jelas akan meroketkan
elektabilitasnya. Ini adalah beberapa poin yang nampaknya membuat Trump meraih
kemenangan.
1.
Bold
Dalam
bisnis namanya “Posisioning branding yang jelas”. Bold yang berarti “Jelas” Ingat itu pakai “o”,
bukan “a” atau bald yang berarti botak. Dalam pencalonannya, trump selalu
mengeluarkan statement atau penyikapan yang benar-benar jelas arah
keberpihakannya, tidak abu-abu (Ini kadang kesalahan yang biasa dilakukan para
kandidat). Sebuah arah statement jelas, walau itu dirasa baik atau buruk, akan
selalu menarik simpatisan lebih mudah dibanding mereka yang mengeluarkan
statement normatif meski terkesan baik. Memang betul trump banyak mengeluarkan
statement yang kontroversi, tapi statementnya pasti jelas arahnya, kiri atau
kanan, hitam atau putih, atas atau bawah, tidak ada diantaranya keduanya.
Contohnya penyikapan tentang menghentikan imigran gelap dari meksiko. Dia benar-benar total, dengan segala mekanismenya membangun tembok dan lain-lain, tak ada kompromi. Titik. Hal ini akan menarik simpati secara frontal dari mereka yang memang sepakat untuk menghentikan imigran gelap. Berbeda halnya dengan para kandidat yang dalam hal imigran nampak abu-abu, ada yang ingin menghentikan, tapi banyak kompromi sana-sini. Ada yang ingin menyelamatkan imigran, namun terkesan ingin membatasi. Hal ini jelas akan membuat kebingungan publik dan sulit menjatuhkan pilihannya kepada mereka. Misalnya ada 100 orang yang akan memilih, dan dalam kandidansi republik terdapat 4 kandidat. Saat trump mengeluarkan “bold”statement, mereka-mereka yang sepakat, meski nampak kontroversial, akan langsung memilih trump, tanpa berpikir panjang. Dibanding kandidat yang arahnya abu-abu, sehingga publik butuh waktu yang lebih, atau malah kebingungan untuk memilih. Jadi, meskipun dari kebijakan kontroversi trump mendapatkan 40 persen suara, dapat dipastikan dia unggul dari kandidat lainnya yang berebut 60 persen untuk dibagi tiga.
Contohnya penyikapan tentang menghentikan imigran gelap dari meksiko. Dia benar-benar total, dengan segala mekanismenya membangun tembok dan lain-lain, tak ada kompromi. Titik. Hal ini akan menarik simpati secara frontal dari mereka yang memang sepakat untuk menghentikan imigran gelap. Berbeda halnya dengan para kandidat yang dalam hal imigran nampak abu-abu, ada yang ingin menghentikan, tapi banyak kompromi sana-sini. Ada yang ingin menyelamatkan imigran, namun terkesan ingin membatasi. Hal ini jelas akan membuat kebingungan publik dan sulit menjatuhkan pilihannya kepada mereka. Misalnya ada 100 orang yang akan memilih, dan dalam kandidansi republik terdapat 4 kandidat. Saat trump mengeluarkan “bold”statement, mereka-mereka yang sepakat, meski nampak kontroversial, akan langsung memilih trump, tanpa berpikir panjang. Dibanding kandidat yang arahnya abu-abu, sehingga publik butuh waktu yang lebih, atau malah kebingungan untuk memilih. Jadi, meskipun dari kebijakan kontroversi trump mendapatkan 40 persen suara, dapat dipastikan dia unggul dari kandidat lainnya yang berebut 60 persen untuk dibagi tiga.
2.
Memahami
Kinerja Media
Masih
berkaitan dengan poin satu sebenarnya. Mungkin karena trump berpengalaman juga
dalam reality show nya “The apprentice”, dia menjadi paham betul bagaimana
media bekerja. Kita pun akan mengakui bahwa hari ini, dimana-mana, ketika
membahas pemilu Amrik, pasti arah pembicaraannya akan membahas trump. Karena
kenapa? Dia pandai memainkan emosi publik. Dia kadang menghina, mengeluarkan
statement-statement konfrontatif, yang akan mengundang media untuk meliput, dan
inilah yang menjadi konsumsi masyarakat yang tampak menarik. Semua pandangan
tertuju ke trump, sehingga menyisakan ruang pemberitaan yang sangat sedikit
untuk kandidat yang lain.
Dalam
pertukaran informasi, anda harus punya pengirim dan penerima serta informasi
yang ditransmisikan. Bagaimana seorang pemimpin akan menyampaikan ide-idenya,
kalau dia tidak memiliki publik yang siap mendengarkan? Dalam kasus trump, dia
berhasil membuat publik memperhatikannya, sehingga akan lebih muda baginya
kedepan untuk mentransfer ide-idenya. Misalnya karena kontroversi atau berita
tertentu (walaupun awalnya merupakan berita buruk) membuat 1000 orang
memperhatikan trump, dari 1000 orang tersebut anggap 10% ternyata sepakat
dengannya, yang berarti trump telah mendapat 100 simpatisan. Bandingkan dengan
kandidat yang karena berusaha normatif, tidak menjadi bahan pemberitaan media
yang seksi, hanya mampu membuat 100 orang memperhatikannya, dari anggap dari
100 orang tadi sama ada 10% orang yang sepakat, maka dia hanya menarik 10
simpatisan. Arahkan terlebih dahulu media terhadap anda, lalu baru keluarkan
statement-statement yang sebenarnya.
Dana kampanye tidak terlalu berefek
pada pilpres, karena banyak variabel lain dalam pilpres yang bisa mempengaruhi
orang lain. Salah satu yang punya pengaruh besar adalah media. Donald Trump tak
perlu membayar banyak untuk diliput media. Selama 2 tahun terakhir, Trump lebih
banyak masuk berita dibandingkan Hillary. Dana kampanye lebih berguna untuk
perebutan kursi senator, atau DPR, pendapat Julia. Pilpres ini bukan soal
iklan vs iklan, ini soal pernyataan kicauan di media. Trump itu selebritis.
Pernyataan Trump sering kontroversial, lebih menarik media untuk meliput. Dan
Trump bisa menyentuh isu-isu yang menjadi concern di masyarakat. Meski
kerap tampil di media, namun Trump lebih sering disorot sisi negatifnya. Namun,
tingginya kuantitas kemunculan di media dinilai tetap memberi keuntungan bagi
Trump.
Terkait sikap Trump yang sarat
kontroversi dan kerap melahirkan perdebatan, terutama pernyataan bernada
kebencian terhadap agama atau kelompok tertentu, Alfred meyakini politikus AS itu fokus pada urusan
domestik negaranya. "Trump tidak melihat dampak dari gagasan atau
pernyataannya. Tujuan utamanya adalah untuk menang," kata dia
menjelaskan. Bila mengamati rekam jejak
Trump, kata Alfred, kalimat-kalimat Trump yang kontroversial justru berhasil
menyaring pemilih. Bukan menjatuhkan dirinya. Fenomena ini juga lah yang
sebenarnya membingungkan media AS. Alfred memastikan, kontroversi adalah
strategi. Tak heran, politisi AS yang membidik kemenangan lebih memilih
melontarkan gagasan atau pernyataan kontroversial. Inilah yang dilakukan Trump, mengusung suara yang tidak pernah dibawakan oleh politikus lain sebelumnya. Tentu saja, Trump akan terpilih menjadi
presiden, penerapan dari gagasan-gagasannya tidak akan sama persis dengan
pernyataan kontroversialnya sekarang ini."
Dalam
hal ini bisa saja tim ahok sengaja mengangkat isu agama, dan ada pihak yang mengangkatnya melalui media (youtube, Fb dll). Isu agama bagian yang sangat sensitif akan langsung disambut dengan antusias oleh
kalangan penganut islam terutama orang-orang fanatik dan
kelompok islam yang garis keras yang tanpa mikir panjang apa diteriakan
dan yang dilakukan. Termasuk menghina, mencaci maki, merusak dan aktivitas
diluar kendali lainya sehingga menjadi ancaman balik bagi mereka sendiri maupun lawan AHOK. Disisi lain kondisi
tersebut pembuat para pendukung maupun simpatisan Ahok semakin menguatkan diri
dan merapatkan barisannya. Bagi kelompok yang belum mengatakan
keberpihakannya akan mencari sendiri
mulai dari sosok Ahok, dan berita hangat terkait melalui internet sementara
diinternet sudah disediakan informasi-infomasi yang memberikan pertimbangan
secara rasional pada pembaca. Tapi sebenarnya informasi maupun pertimbangan
tersebut menggiring memihak ke Ahok. Sama dengan terpilihnya Presiden Jokowi membuktikan
mayoritas masyarakat Indonesia sudah berpikir progresif, isu SARA yang diangkat
untuk menjatuhkan Jokowi dahulu, justru meningkatkan pamornya dan jangan lupa,
Jakarta adalah barometer yang utama, terlepas siapa yang menggulirkan isu
tersebut.
3.
Master Persuader
Bukan rahasia lagi jika trump
merupakan negotiator yang ulung, dan memahami betul kaidah-kaidah persuasi.
Perhatikan baik-baik saat trump menyampaikan pidatonya, baik itu saat kampanye
ataupun debat kandidat. Bagi orang-orang yang cerdas, mungkin yang disampaikan
trump sangat tidak berbobot, tidak terelaborasi, ataupun cenderung repetitif.
Dibanding kandidat lain yang menyampaikan beragam data dan penjelasan
komprehensif. Tapi justru inilah keunggulan trump. Dia memahami prinsip-prinsip
“Cognitive Bias”, bahwasanya tanpa disadari manusia akan mengambil keputusan
berdasarkan hal-hal yang sebenarnya irasional, namun terkadag tidak kita
sadari. Silahkan googling mengenai cognitive bias untuk memahami lebih
lanjut. Banyak kandidat yang agar
terlihat cerdas, dalam pidatonya atau debatnya menggunakan kata-kata yang super
tinggi, bahkan memaparkan data dan angka scientific. Mereka tidak menyadari
bahwa pesan mereka tersebut tidak akan masuk ke alam bawah sadar dan akhirnya
menggerakkan orang untuk memilih mereka. Berbeda dengan trump. Silahkan anda
amati, dia menggunakan bahasa-bahasa yang amat sederhana, cenderung repetitif,
karena dia paham bahwa yang demikian itu yang akan mampu melakukan penetrasi
kedalam alam bawah sadar pendengarnya sehingga menggerakkan orang-orang untuk
memilihnya. Dengan bahasa tinggi tentu anda akan terlihat cerdas. Namun apakah
itu yang akan membuat orang-orang memilih anda? Bukan. Ada satu metode
penyampaian yang sangat cerdik oleh trump, hal ini dinamakan “social approve”
ataupun “appeal from authority”. Contohnya pada saat debat kandidat dia sempat
ditanyai oleh seorang panelis mengenai rencana penerapan pajaknya yang
terdengar aneh dan tidak masuk akal menurut sang panelis (Pada intinya trump
sempat menyatakan akan memotong pajak, tanpa menambah defisit), bagaimana trump
menjawabnya ? Dia tidak menjelaskan secara ribet , dia cuman mengatakan bahwa
seorang ekonomis terkenal (larry kudlow) menyukai rencana pajaknya tersebut.
Ucapan itu sebenarnya tidak menjawab pertanyaan sang panelis dengan rasional,
tapi dalam persepsi publik yang menyaksikan, mereka telah teryakinkan bahwa
sebenarnya tax plan trump itu sangatlah baik karena seorang pakar telah membaca
dan mendukung rencana pajak tersebut. And that’s called appeal from authority
method. Jadi trump tidak pusing-pusing membanjiri penonton dengan beragam
penjelasan yang ribet, namun hanya mengungkapkan sedikit hal-hal yang penting,
dan melakukan pengulangan terhadapnya untuk menanamkan gagasan tersebut.
4. Menjadi
berbeda
Jika ingin memiliki merek/nama yang
kuat, Seseorang harus bersedia untuk menjadi berbeda dengan merek kebanyakan. Anda juga harus berani untuk memisahkan diri dari merek sejenis.
Ketika Anda sudah melakukannya sudah dipastikan akan ada pihak yang
bersebrangan dengan Anda, yang mungkin biasa disebut dengan "Anti-Fans'. Tapi
faktanya, siapa pun yang tidak memiliki Anti-Fans jarang memiliki nama merek
yang kuat. Memang jika kita bermain aman, mungkin hanya sedikit yang tidak
menyukai merek kita , tapi otomatis kita juga akan memiliki sedikit pengagum
dari merek kita .
Hal itulah yang dilakukan oleh
Trump, dirinya sudah bersiap untuk mendapatkan banyak Anti-Fans. Mungkin seseorang tidak ingin melakukan apa yang dilakukannya. Namun setidaknya seseorang harus berani
untuk menjadi sesuatu yang berbeda, bahkan kontroversial jika ingin mempunyai
merek/nama yang kuat.
Sebenarnya masih ada beberapa poin
lagi terkait kemenangan Trump, namun karena saat ini saya harus dikerjakan yang
lebih penting, kalau dari keempat poin
diatas anda amati dengan saksama, sebenarnya sudah banyak pemimpin di Indonesia
yang menerapkan hal-hal yang sama. Contohnya adalah banyaknya pemimpin yang
hobbynya marah-marah agar memang diliput oleh media, dan sebagainya. Dan bagi
mereka yang tidak paham akhirnya kebingungan “Wah dia kok bisa unggul ya?” atau
“Wah dia kok banyak yang milih padahal saya lebih bagus, sedangkan dia
blablabla”. Atau bahkan pemimpin yang awal mulanya sekedar di-bully media
kemudian menjadi meroket reputasinya. Kita harus sama-sama menyadari, bahwa dalam
era digital saat ini, memang sudah terdapat banyak perubahan dari masa-masa
sebelumnya dalam segi poltical campaign, sehingga kita harus segera menyadari
dan menyesuaikan diri.
Jika Anda hanya ingin membaca satu
buku politik tahun ini, bacalah The Populist Explosion karya John B Judis yang
dengan cerdas menjelaskan berbagai hal yang saling berkaitan untuk menjelaskan
berbagai peristiwa di era informasi.
Buku
Sun Tzu. “The Art of War”.













