Kamis, 10 November 2016

Apakah Strategi Donald trump dipakai untuk meraih kemenangan AHOK?

Pada awal saya menelusuri proses kesuksesan Donalt Trum didunia bisnis karna dia adalah sala satu miliader sukses dibelahan bumi diseberang (Amerika Serikat) dengan tujuan menambah pemahaman terkait tokoh bisnis sukses untuk dimasukin dalam proyek riset yang saya angkat. Sebenarnya saya juga belum pernah menulis terkait trump sebelumnya, entah kenapa ada panggilan yang membuat mengangkat tema ini saya menganggap ada strategi yang hampir mirip digunakan oleh kedua tokoh tersebut.
Di isu internasional beberapa pekan terakhir  orang-orang memperbicangkan sang  calon presiden kontroversial Danald Trum (Pemenang Pemilu saat ini) sementara di tingkat nasional orang-orang memperbincangkan Basuki Tjahaja Purnama(AHOK). Semalam beberapa teman kuliah menyebutkan Tunggu tanggal 25 November, Awalnya saya berpikir itu adalah hari pengumpulan tugas atau ada jadwal seminar  setelah saya tanya ke sala satu dari mereka menjawab ternyata tanggal Demo/Aksi terhadap AHOK. Hha (kurang update info).
Sun Tzu seorang panglima sekaligus ahli seni perang legendaris abad ke-6 SM dari  Tionghoa pernah mengatakan “Kenali dirimu, kenali musuhmu, dan kenali medan tempurmu. Dan kau akan memenangi seribu pertempuran”. Jika kamu mengenal dirimu sendiri tanpa mengenal musuhmu setiap kemenangan yang diperoleh, kamu juga akan menderita. Jika kamu tidak mengenal musuhmu dan dirimu sendiri kamu akan menderita kekalahan dalam setiap pertempuran.
Informasi Digital menjadi kebutuhan dasar bagi generasi X, lagi-lagi generasi Y dan Z. Teknologi informasi berubah dengan sangat cepat bahkan dalam perhitungan bulan dengan munculnya inovasi produk-produk baru perangkat lunak maupun perangkat keras bahkan jaringan internet yang memudahkan akses informasi masyarakat semakin hari semakin mudah dan cepat dimanapun dan kapanpun, maka setiap aktivitas pun ikut berubah terutama dalam hal mengakses informasi dari berbagai bidang. Internet dan media sosial telah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan manusia. Tak hanya saja, internet dan media sosial telah memengaruhi cara berbisnis tak terkecuali aktivitas dalam dunia politik.
Katidakpercayaan terhadap tokoh publik dan media TV yang semakin hari semakin tidak jelas arahnya dan cenderung memihak membuat masyarakat (terutama masyarakat ibu kota) beralih mencari informasi secara pribadi melalui media internet, mulai dari media sosial, website bahkan dengan youtube. . Disisi lain budaya literasi(menulis) masyarakat indonesia yang masih rendah sehingga masyarakat bisa terjebak oleh informasi miring yang dikelolah dengan secara terorganisir oleh kelompok tertentu. Hal ini dukung juga oleh merajalelanya akun palsu di media sosial maupun media lain untuk mengakses lewat internet.
Kembali ke Topik utama, Lalu bagaimana tim Donalt Trum dalam mengambil keuntungan peluang yang ada?
Nah beginilah Strategi Kampanye Trump Pada Primary Election U.S.A.
Dalam tuisan ini saya tidak akan menjelaskan bagaimana sistem pemilihan presiden di amerika, yang cukup berbeda dari sistem pemilihan presiden di Indonesia, jadi jika anda ingin tahu, silahkan googling sendiri. Yang pada intinya beberapa bulan yang lalu Amerika sedang menjalankan Primary Election, dimana masing-masing kandidat baik dari partai republik maupun demokrat sedang berlomba untuk memenangkan nominasi dari partainya masing-masing untuk meraih kemenangan. Sederhananya saya hanya menganalisa fenomena yang terjadi mengapa Trump bisa meraih kemanangan. Dan jujur saja mungkin ini hanya analisa dari perspektif hamba yang sebatas seseorang yang berkecimpung di dunia IT dan sedikit tidak nyambung dengan masalah ilmu-ilmu sosial dan politik, saya rasa diluar sana banyak orang yang berkompeten perihal hal ini. Hamba saya sekedar menuliskan analisa dari pengamatan seadanya. Jadi mohon maafkan jika berbeda pandangan.
Ok. so let’s begin. Jika anda mengamati dengan cermat, sebenarnya kemenangan trump ini bukan hal yang aneh, dan metode yang mirip-mirip banyak terjadi juga dalam pilkada di dalam negeri. Ketika awalnya Donald J. Trump menyatakan secara resmi bahwa ia akan maju sebagai kandidat presiden U.S.A pada bulan Juni 2015 silam, banyak orang yang tertawa, mengolok-olok, seakan-akan tidak percaya. Di berbagai media sosial, satu persatu netizen berusaha mem-bully sang taipan real-estate ini. Terutama di salah satu situs favorit saya, 9gag. Melihat fenomena tersebut, saya sudah memprediksikan bahwa Trump akan unggul, bukan karena melihat kehebatannya, tapi karena berbagai bully-an yang muncul, yang jelas akan meroketkan elektabilitasnya. Ini adalah beberapa poin yang nampaknya membuat Trump meraih kemenangan.
1.       Bold
Dalam bisnis namanya “Posisioning branding yang jelas”.  Bold yang berarti “Jelas” Ingat itu pakai “o”, bukan “a” atau bald yang berarti botak. Dalam pencalonannya, trump selalu mengeluarkan statement atau penyikapan yang benar-benar jelas arah keberpihakannya, tidak abu-abu (Ini kadang kesalahan yang biasa dilakukan para kandidat). Sebuah arah statement jelas, walau itu dirasa baik atau buruk, akan selalu menarik simpatisan lebih mudah dibanding mereka yang mengeluarkan statement normatif meski terkesan baik. Memang betul trump banyak mengeluarkan statement yang kontroversi, tapi statementnya pasti jelas arahnya, kiri atau kanan, hitam atau putih, atas atau bawah, tidak ada diantaranya keduanya. 
Contohnya penyikapan tentang menghentikan imigran gelap dari meksiko. Dia benar-benar total, dengan segala mekanismenya membangun tembok dan lain-lain, tak ada kompromi. Titik. Hal ini akan menarik simpati secara frontal dari mereka yang memang sepakat untuk menghentikan imigran gelap. Berbeda halnya dengan para kandidat yang dalam hal imigran nampak abu-abu, ada yang ingin menghentikan, tapi banyak kompromi sana-sini. Ada yang ingin menyelamatkan imigran, namun terkesan ingin membatasi. Hal ini jelas akan membuat kebingungan publik dan sulit menjatuhkan pilihannya kepada mereka. Misalnya ada 100 orang yang akan memilih, dan dalam kandidansi republik terdapat 4 kandidat. Saat trump mengeluarkan “bold”statement, mereka-mereka yang sepakat, meski nampak kontroversial, akan langsung memilih trump, tanpa berpikir panjang. Dibanding kandidat yang arahnya abu-abu, sehingga publik butuh waktu yang lebih, atau malah kebingungan untuk memilih. Jadi, meskipun dari kebijakan kontroversi trump mendapatkan 40 persen suara, dapat dipastikan dia unggul dari kandidat lainnya yang berebut 60 persen untuk dibagi tiga.
2.       Memahami Kinerja Media
Masih berkaitan dengan poin satu sebenarnya. Mungkin karena trump berpengalaman juga dalam reality show nya “The apprentice”, dia menjadi paham betul bagaimana media bekerja. Kita pun akan mengakui bahwa hari ini, dimana-mana, ketika membahas pemilu Amrik, pasti arah pembicaraannya akan membahas trump. Karena kenapa? Dia pandai memainkan emosi publik. Dia kadang menghina, mengeluarkan statement-statement konfrontatif, yang akan mengundang media untuk meliput, dan inilah yang menjadi konsumsi masyarakat yang tampak menarik. Semua pandangan tertuju ke trump, sehingga menyisakan ruang pemberitaan yang sangat sedikit untuk kandidat yang lain.
Dalam pertukaran informasi, anda harus punya pengirim dan penerima serta informasi yang ditransmisikan. Bagaimana seorang pemimpin akan menyampaikan ide-idenya, kalau dia tidak memiliki publik yang siap mendengarkan? Dalam kasus trump, dia berhasil membuat publik memperhatikannya, sehingga akan lebih muda baginya kedepan untuk mentransfer ide-idenya. Misalnya karena kontroversi atau berita tertentu (walaupun awalnya merupakan berita buruk) membuat 1000 orang memperhatikan trump, dari 1000 orang tersebut anggap 10% ternyata sepakat dengannya, yang berarti trump telah mendapat 100 simpatisan. Bandingkan dengan kandidat yang karena berusaha normatif, tidak menjadi bahan pemberitaan media yang seksi, hanya mampu membuat 100 orang memperhatikannya, dari anggap dari 100 orang tadi sama ada 10% orang yang sepakat, maka dia hanya menarik 10 simpatisan. Arahkan terlebih dahulu media terhadap anda, lalu baru keluarkan statement-statement yang sebenarnya.
Dana kampanye tidak terlalu berefek pada pilpres, karena banyak variabel lain dalam pilpres yang bisa mempengaruhi orang lain. Salah satu yang punya pengaruh besar adalah media. Donald Trump tak perlu membayar banyak untuk diliput media. Selama 2 tahun terakhir, Trump lebih banyak masuk berita dibandingkan Hillary. Dana kampanye lebih berguna untuk perebutan kursi senator, atau DPR, pendapat Julia. Pilpres ini bukan soal iklan vs iklan, ini soal pernyataan kicauan di media. Trump itu selebritis. Pernyataan Trump sering kontroversial, lebih menarik media untuk meliput. Dan Trump bisa menyentuh isu-isu yang menjadi concern di masyarakat. Meski kerap tampil di media, namun Trump lebih sering disorot sisi negatifnya. Namun, tingginya kuantitas kemunculan di media dinilai tetap memberi keuntungan bagi Trump.
Terkait sikap Trump yang sarat kontroversi dan kerap melahirkan perdebatan, terutama pernyataan bernada kebencian terhadap agama atau kelompok tertentu, Alfred meyakini politikus AS itu fokus pada urusan domestik negaranya. "Trump tidak melihat dampak dari gagasan atau pernyataannya. Tujuan utamanya adalah untuk menang," kata dia menjelaskan.  Bila mengamati rekam jejak Trump, kata Alfred, kalimat-kalimat Trump yang kontroversial justru berhasil menyaring pemilih. Bukan menjatuhkan dirinya. Fenomena ini juga lah yang sebenarnya membingungkan media AS. Alfred memastikan, kontroversi adalah strategi. Tak heran, politisi AS yang membidik kemenangan lebih memilih melontarkan gagasan atau pernyataan kontroversial. Inilah yang dilakukan Trump, mengusung suara yang tidak pernah dibawakan oleh politikus lain sebelumnya.  Tentu saja,  Trump akan terpilih menjadi presiden, penerapan dari gagasan-gagasannya tidak akan sama persis dengan pernyataan kontroversialnya sekarang ini."
Dalam hal ini bisa saja tim ahok sengaja mengangkat isu agama, dan  ada pihak yang mengangkatnya melalui media (youtube, Fb dll). Isu agama bagian yang sangat sensitif  akan langsung disambut dengan antusias oleh kalangan penganut islam terutama orang-orang fanatik dan  kelompok islam yang garis keras yang tanpa mikir panjang apa diteriakan dan yang dilakukan. Termasuk menghina, mencaci maki, merusak dan aktivitas diluar kendali lainya sehingga menjadi ancaman balik bagi mereka sendiri maupun lawan AHOK. Disisi lain kondisi tersebut pembuat para pendukung maupun simpatisan Ahok semakin menguatkan diri dan merapatkan barisannya. Bagi kelompok yang belum mengatakan keberpihakannya  akan mencari sendiri mulai dari sosok Ahok, dan berita hangat terkait melalui internet sementara diinternet sudah disediakan informasi-infomasi yang memberikan pertimbangan secara rasional pada pembaca. Tapi sebenarnya informasi maupun pertimbangan tersebut menggiring memihak ke Ahok. Sama dengan terpilihnya Presiden Jokowi membuktikan mayoritas masyarakat Indonesia sudah berpikir progresif, isu SARA yang diangkat untuk menjatuhkan Jokowi dahulu, justru meningkatkan pamornya dan jangan lupa, Jakarta adalah barometer yang utama, terlepas siapa yang menggulirkan isu tersebut.

3.       Master Persuader
Bukan rahasia lagi jika trump merupakan negotiator yang ulung, dan memahami betul kaidah-kaidah persuasi. Perhatikan baik-baik saat trump menyampaikan pidatonya, baik itu saat kampanye ataupun debat kandidat. Bagi orang-orang yang cerdas, mungkin yang disampaikan trump sangat tidak berbobot, tidak terelaborasi, ataupun cenderung repetitif. Dibanding kandidat lain yang menyampaikan beragam data dan penjelasan komprehensif. Tapi justru inilah keunggulan trump. Dia memahami prinsip-prinsip “Cognitive Bias”, bahwasanya tanpa disadari manusia akan mengambil keputusan berdasarkan hal-hal yang sebenarnya irasional, namun terkadag tidak kita sadari. Silahkan googling mengenai cognitive bias untuk memahami lebih lanjut.  Banyak kandidat yang agar terlihat cerdas, dalam pidatonya atau debatnya menggunakan kata-kata yang super tinggi, bahkan memaparkan data dan angka scientific. Mereka tidak menyadari bahwa pesan mereka tersebut tidak akan masuk ke alam bawah sadar dan akhirnya menggerakkan orang untuk memilih mereka. Berbeda dengan trump. Silahkan anda amati, dia menggunakan bahasa-bahasa yang amat sederhana, cenderung repetitif, karena dia paham bahwa yang demikian itu yang akan mampu melakukan penetrasi kedalam alam bawah sadar pendengarnya sehingga menggerakkan orang-orang untuk memilihnya. Dengan bahasa tinggi tentu anda akan terlihat cerdas. Namun apakah itu yang akan membuat orang-orang memilih anda? Bukan. Ada satu metode penyampaian yang sangat cerdik oleh trump, hal ini dinamakan “social approve” ataupun “appeal from authority”. Contohnya pada saat debat kandidat dia sempat ditanyai oleh seorang panelis mengenai rencana penerapan pajaknya yang terdengar aneh dan tidak masuk akal menurut sang panelis (Pada intinya trump sempat menyatakan akan memotong pajak, tanpa menambah defisit), bagaimana trump menjawabnya ? Dia tidak menjelaskan secara ribet , dia cuman mengatakan bahwa seorang ekonomis terkenal (larry kudlow) menyukai rencana pajaknya tersebut. Ucapan itu sebenarnya tidak menjawab pertanyaan sang panelis dengan rasional, tapi dalam persepsi publik yang menyaksikan, mereka telah teryakinkan bahwa sebenarnya tax plan trump itu sangatlah baik karena seorang pakar telah membaca dan mendukung rencana pajak tersebut. And that’s called appeal from authority method. Jadi trump tidak pusing-pusing membanjiri penonton dengan beragam penjelasan yang ribet, namun hanya mengungkapkan sedikit hal-hal yang penting, dan melakukan pengulangan terhadapnya untuk menanamkan gagasan tersebut.
4.       Menjadi berbeda
Jika ingin memiliki merek/nama yang kuat, Seseorang harus bersedia untuk menjadi berbeda dengan merek kebanyakan. Anda juga harus berani untuk memisahkan diri dari merek sejenis. Ketika Anda sudah melakukannya sudah dipastikan akan ada pihak yang bersebrangan dengan Anda, yang mungkin biasa disebut dengan "Anti-Fans'. Tapi faktanya, siapa pun yang tidak memiliki Anti-Fans jarang memiliki nama merek yang kuat. Memang jika kita bermain aman, mungkin hanya sedikit yang tidak menyukai merek kita , tapi otomatis kita juga akan memiliki sedikit pengagum dari merek kita .
Hal itulah yang dilakukan oleh Trump, dirinya sudah bersiap untuk mendapatkan banyak Anti-Fans. Mungkin seseorang tidak ingin melakukan apa yang dilakukannya. Namun setidaknya seseorang harus berani untuk menjadi sesuatu yang berbeda, bahkan kontroversial jika ingin mempunyai merek/nama yang kuat.
Sebenarnya masih ada beberapa poin lagi terkait kemenangan Trump, namun karena saat ini saya harus dikerjakan yang lebih penting,  kalau dari keempat poin diatas anda amati dengan saksama, sebenarnya sudah banyak pemimpin di Indonesia yang menerapkan hal-hal yang sama. Contohnya adalah banyaknya pemimpin yang hobbynya marah-marah agar memang diliput oleh media, dan sebagainya. Dan bagi mereka yang tidak paham akhirnya kebingungan “Wah dia kok bisa unggul ya?” atau “Wah dia kok banyak yang milih padahal saya lebih bagus, sedangkan dia blablabla”. Atau bahkan pemimpin yang awal mulanya sekedar di-bully media kemudian menjadi meroket reputasinya. Kita harus sama-sama menyadari, bahwa dalam era digital saat ini, memang sudah terdapat banyak perubahan dari masa-masa sebelumnya dalam segi poltical campaign, sehingga kita harus segera menyadari dan menyesuaikan diri.

Jika Anda hanya ingin membaca satu buku politik tahun ini, bacalah The Populist Explosion karya John B Judis yang dengan cerdas menjelaskan berbagai hal yang saling berkaitan untuk menjelaskan berbagai peristiwa di era informasi.

Buku Sun Tzu. “The Art of War”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar